15 Sekolah di Tangerang Terkena Banjir, Siswa Lanjut Belajar Daring
3 mins read

15 Sekolah di Tangerang Terkena Banjir, Siswa Lanjut Belajar Daring

Baru-baru ini, Kabupaten Tangerang di Banten mengalami bencana banjir yang cukup parah, menyebabkan aktivitas di 15 sekolah dasar dan menengah pertama dihentikan sementara. Hal ini diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi siswa dan tenaga pengajar dari risiko yang ditimbulkan akibat situasi cuaca yang tidak menguntungkan.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Agus Supriatna, banjir yang terjadi di wilayah utara menyebabkan aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut terpaksa dialihkan ke sistem daring. Keputusan ini diambil untuk memastikan kondisi keselamatan yang lebih baik bagi seluruh tenaga pengajar dan murid.

Dalam penjelasannya, Agus menyatakan bahwa 12 sekolah dasar dan tiga sekolah menengah pertama terpaksa diliburkan. Pihak sekolah juga berupaya untuk tetap menjaga komunikasi dan pengawasan dengan sistem kerja dari mana saja guna memastikan lingkungan sekolah tetap terpantau.

Pengaruh Banjir Terhadap Pendidikan di Kabupaten Tangerang

Banjir di Kabupaten Tangerang ini menimbulkan dampak signifikan bagi dunia pendidikan. Tidak hanya kegiatan belajar mengajar yang terhenti, tetapi juga proses administrasi dan komunikasi antar guru dan siswa menjadi terganggu. Ketidakstabilan ini mempengaruhi konsentrasi siswa dalam belajar dan mempersiapkan diri untuk ujian mendatang.

Agus Supriatna menegaskan bahwa langkah ini sangat penting untuk menjaga keselamatan semua pihak yang terlibat. Sistem WFA atau kerja dari mana saja diterapkan untuk memungkinkan para guru terus menjalankan tugas mereka. Hal ini menjadi solusi untuk memaksimalkan pembelajaran di tengah kesulitan yang ada.

Selain itu, penghentian kegiatan tatap muka membuat pihak sekolah perlu lebih kreatif dalam penyampaian materi. Pembelajaran jarak jauh menjadi satu-satunya alternatif, tetapi juga memerlukan persiapan yang matang agar efektivitasnya tetap terjaga.

Strategi Mitigasi dan Pemulihan Pasca Banjir

Dalam menghadapi kemungkinan banjir yang berulang, Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang berencana melakukan sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya adalah membuat lubang resapan biopori di berbagai lingkungan sekolah, sehingga aliran air dapat terserap dengan baik dan tidak menimbulkan genangan saat hujan lebat.

Agus menambahkan bahwa normalisasi saluran air di sekitar sekolah-sekolah yang rawan terdampak juga akan menjadi prioritas. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk dari bencana banjir di masa yang akan datang.

Pihak sekolah juga diajak untuk aktif berpartisipasi dalam upaya ini, misalnya dengan merencanakan kegiatan sosial yang berfokus pada pemeliharaan lingkungan. Melibatkan siswa dalam kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Kesiapan Dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem

Kesiapan menghadapi kondisi cuaca ekstrem perlu diperhatikan dengan serius oleh semua pihak. Dalam kondisi genting seperti banjir, koordinasi yang baik antarinstansi pemerintah sangat diperlukan untuk merespons dengan cepat. Dinas Pendidikan, misalnya, perlu bekerja sama dengan instansi lain untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Agar pembelajaran tetap berjalan, sekolah-sekolah perlu memiliki rencana kontinjensi yang jelas. Rencana ini harus mencakup langkah-langkah untuk memindahkan kegiatan belajar ke media online dengan cepat dan efisien dalam situasi darurat. Melalui pelatihan dan sosialisasi yang rutin, diharapkan semua pihak dapat beradaptasi dengan perubahan ini.

Pendidikan berbasis daring bukanlah pilihan yang bisa diabaikan, melainkan harus diterima dengan baik sebagai bagian dari proses pembelajaran di era digital. Oleh karena itu, perlunya pembekalan bagi siswa dan staf pengajar tentang penggunaan teknologi merupakan langkah kritis yang harus diambil.