Kontroversi RKUHAP dan Protes Koalisi Sipil terhadap Pembuat Undang-Undang
4 mins read

Kontroversi RKUHAP dan Protes Koalisi Sipil terhadap Pembuat Undang-Undang

Proses pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) di DPR tengah menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini dikarenakan adanya beberapa kejanggalan dalam pembahasan dan pengambilan keputusan yang disinyalir menyalahi prosedur dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Revisi RKUHAP, yang sudah berusia 44 tahun, seharusnya bisa menjawab tantangan hukum modern. Namun, sebaliknya, banyak kritik yang muncul dari berbagai kalangan yang memperingatkan bahwa proses ini dapat merugikan kepentingan masyarakat.

Penolakan terhadap RKUHAP juga datang dari koalisi masyarakat sipil yang menyatakan bahwa substansi dalam revisi ini perlu ditinjau kembali. Mereka melihat adanya cacat formil dan materiil dalam proses legislasi yang sedang berlangsung.

Hal ini menjadi perhatian penting karena RKUHAP akan berdampak signifikan terhadap sistem hukum dan keadilan di Indonesia. Jika dibiarkan, akan ada risiko tidak hanya terhadap proses hukum, tapi juga terhadap hak-hak individu.

Kesepakatan Pengesahan RKUHAP di Dewan Perwakilan Rakyat

Komisi III DPR telah mengesahkan RKUHAP untuk dibawa ke paripurna, mencerminkan ambisi legislatif untuk memperbarui undang-undang yang sudah ada. Meski demikian, keputusan ini tidak berjalan mulus karena banyak protes yang berasal dari masyarakat sipil.

Wakil Ketua DPR menyatakan bahwa proses pengesahan ini memiliki dasar yang kuat dari segi keterwakilan semua fraksi. Namun, banyak pihak meragukan kualitas pembahasan yang tampak terburu-buru.

Pada kesempatan ini, koalisi masyarakat sipil mengeluarkan pernyataan bahwa pembahasan RKUHAP di tingkat panitia kerja tidak memenuhi kriteria substansi yang seharusnya dibahas. Mereka menilai bahwa banyak masukan yang tidak dipertimbangkan secara serius.

Protest dan Tanggapan dari Koalisi Sipil

Kritik yang paling mendasar adalah tentang tidak adanya perhatian yang memadai terhadap masukan dari publik. Masyarakat sipil meminta kepada pemerintah untuk menghentikan proses pengesahan RKUHAP sampai ada pertimbangan yang lebih jelas.

Wakil Ketua YLBHI menegaskan bahwa proses publikasi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan ini sangat penting untuk menghasilkan undang-undang yang lebih baik. Tindakan responsif dari pemerintah sangat dinanti.

Di saat yang sama, banyak kalangan beranggapan bahwa RKUHAP baru harus benar-benar menopang prinsip keadilan yang menempatkan korban, tersangka, dan masyarakat pada posisi setara. Ini merupakan tantangan besar bagi legislatif dan eksekutif.

Analisis Kekurangan dalam RKUHAP

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pengaturan tentang penahanan dan penangkapan yang berpotensi melanggar hak asasi manusia. Koalisi menyuarakan bahwa tahap penyelidikan dalam RKUHAP dapat memberikan dampak buruk bagi individu.

Pasal-pasal yang berada di dalam RKUHAP dianggap tidak memberikan perlindungan yang memadai bagi individu yang berhadapan dengan hukum. Koalisi berargumen bahwa peraturan ini dapat menjadi alat penyalahgunaan kekuasaan.

Sebagai contoh, masalah penahanan tanpa adanya izin hakim pada tahap penyelidikan menjadi sorotan utama. Ini dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sistem hukum.

Perlunya Keterlibatan Masyarakat dalam Pembahasan RKUHAP

Penyusunan RKUHAP seharusnya melibatkan masyarakat secara lebih signifikan guna memperkaya substansi undang-undang yang akan ditetapkan. Partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dapat membawa perspektif yang holistik.

Koalisi masyarakat sipil menegaskan pentingnya forum publik untuk mendiskusikan substansi RKUHAP. Mereka ingin mendengar dan menerima sarana masukan yang konstruktif dari masyarakat.

Proses ini merupakan aspek penting guna memastikan bahwa undang-undang yang dihasilkan bukan hanya berdasarkan suara elit tetapi juga mencerminkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat luas.

Implikasi Jangka Panjang dari RKUHAP yang Disahkan

Jika RKUHAP disahkan dalam keadaan yang penuh kekurangan, dampaknya akan dirasakan dalam waktu yang lama. Undang-undang yang cacat akan sulit untuk diperbaiki di kemudian hari dan dapat memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

Masalah hak asasi manusia yang membayangi RKUHAP dapat menciptakan ketidakadilan yang lebih luas. Ini merupakan sinyal bahaya bagi demokrasi dan pemenuhan hak individu.

Melalui pembahasan yang lebih transparan dan inklusif, diharapkan RKUHAP bisa menjadi payung hukum yang mengedepankan keadilan, serta melindungi hak-hak semua pihak yang terlibat dalam proses hukum.