Tujuh Lapas di Aceh Terendam Banjir, Akses Lima Lapas Terputus
3 mins read

Tujuh Lapas di Aceh Terendam Banjir, Akses Lima Lapas Terputus

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan mencatat adanya tujuh lembaga pemasyarakatan yang terdampak banjir di Aceh. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu operasional lembaga dan kesejahteraan para petugas yang bekerja di sana.

Adapun tujuh lapas yang terendam adalah Lapas Perempuan Sigli, Lapas Lhokseumawe, Lapas Lhoksukon, Lapas Langsa, Lapas Narkotika Langsa, Lapas Kuala Simpang, dan Lapas Singkil. Selain itu, lima lapas lainnya tidak dapat diakses karena jembatan dan jalan yang putus.

Lapas yang tidak dapat diakses termasuk Lapas Idi, Lapas Bener Meriah, Lapas Takengon, Lapas Blangkejeren, dan Lapas Kutacane yang hanya dapat dijangkau melalui Medan. Situasi ini memerlukan penanganan segera untuk memastikan keamanan dan kenyamanan para penghuni serta petugas di lapas.

Kerusakan Terparah dan Dampak di Lapas Kuala Simpang

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menjelaskan bahwa kerusakan terparah terjadi di Lapas Kuala Simpang. Menurutnya, banjir telah menggenangi area tersebut sehingga aktivitas perkantoran terpaksa dihentikan.

“Dampak kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga berat,” ujarnya saat meninjau lokasi banjir. Lapas Kuala Simpang menjadi sorotan utama karena keadaan yang sangat memburuk akibat genangan air dan lumpur.

Mashudi juga menekankan bahwa kebutuhan mendesak seperti lampu darurat, pompa air, dan perlengkapan makan minum sangat diperlukan. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi kesulitan yang dihadapi oleh penghuni lapas dan petugas.

Selain itu, banyak petugas lapas yang turut merasakan dampak dari bencana ini, termasuk kerusakan pada rumah mereka. Hal ini memerlukan perhatian khusus agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik meskipun dalam keadaan sulit.

Untuk itu, bantuan bagi petugas yang terdampak telah disiapkan sebagai langkah responsif dari pihak kementerian. Bimbingan dan dukungan diharapkan dapat meringankan beban mereka saat kondisi seperti ini.

Statistik Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa jumlah korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus bertambah. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal mencapai 916 jiwa.

Sementara itu, sebanyak 274 orang dilaporkan hilang, yang menjadi perhatian lebih lanjut bagi pihak berwenang. Angka-angka tersebut mencerminkan dampak serius dari bencana alam yang terjadi.

BNPB juga melaporkan sekitar 4.200 orang terluka akibat bencana ini. Kerusakan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada infrastruktur yang sangat penting bagi masyarakat.

Lebih dari 1.300 fasilitas umum dilaporkan rusak, termasuk rumah sakit dan sekolah. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena fasilitas tersebut merupakan bagian penting dalam mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kerusakan yang melanda sejumlah fasilitas kesehatan mencapai 199, sementara 697 fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Ini tentu akan berdampak pada akses layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat di daerah terdampak.

Tindakan Pengurangan Risiko dan Bantuan Kemanusiaan

Menanggapi situasi yang semakin memburuk, pihak pemerintah menginisiasi berbagai langkah untuk merespons dan menangani bencana ini. Salah satu langkah utama adalah pengiriman bantuan kemanusiaan kepada mereka yang terdampak.

Pihak berwenang juga bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah untuk memberikan dukungan langsung kepada korban bencana. Upaya ini bertujuan agar semua bantuan dapat mencapai sasaran dengan tepat dan efektif.

Selain bantuan fisik, penting juga untuk memberikan dukungan psikologis kepada mereka yang tertekan akibat situasi tersebut. Pendekatan holistik dalam penanganan bencana dapat membantu mempercepat pemulihan psikologis masyarakat.

Dalam jangka panjang, tindakan pengurangan risiko bencana perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Hal ini melibatkan perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana.

Putusan bersama dari semua pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan bahwa masyarakat dapat beradaptasi dan pulih dari bencana dengan lebih cepat. Keterlibatan komunitas juga dianggap penting dalam penanganan dan pemulihan bencana.