Jalan Putus, Bantuan Dikirim ke Sikundo Aceh Barat Menggunakan Helikopter
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat telah mengambil langkah cepat dalam mengatasi dampak bencana yang melanda masyarakat Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen. Bantuan logistik berupa makanan dan kebutuhan pokok telah dikirimkan menggunakan helikopter, dikarenakan akses jalan yang masih terputus akibat bencana.
Saat ini, masyarakat Sikundo sangat membutuhkan perhatian dan bantuan dari berbagai pihak. Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal, menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat yang terisolasi sejak terjadinya banjir bandang.
Distribusi bantuan dilakukan dengan menggunakan metode yang paling aman dan efektif, mengingat bahwa melakukan perjalanan darat tidak memungkinkan untuk saat ini. Penyaluran bantuan melalui udara ini, diharapkan akan mampu meringankan beban masyarakat yang terdampak.
Pengiriman Bantuan yang Mendesak dan Signifikan
BPBD telah mengirimkan 125 kilogram beras dan 15 kotak sembako paket dari BNPB, serta satu mesin genset untuk masyarakat yang membutuhkan. Semua upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat bisa terpenuhi, terutama dalam situasi darurat seperti ini.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sebelumnya juga mengirimkan bantuan ke kawasan yang sama untuk membantu masyarakat yang terisolasi akibat bencana. Bantuan ini menjadi harapan bagi warga yang saat ini terjebak dalam kondisi yang sangat sulit.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengungkapkan bahwa saat ini 40 kepala keluarga di kawasan tersebut masih terjebak dan tidak bisa mengakses dunia luar. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan mendesak untuk segera diatasi agar masyarakat dapat memperoleh bantuan yang mereka butuhkan.
Kondisi Masyarakat yang Terisolasi dan Menderita
Keluarga-keluarga di Sikundo mengalami kesulitan luar biasa karena akses jalan yang hancur. Jalan sepanjang lima kilometer yang menghubungkan desa mereka telah berubah menjadi aliran sungai, membuat mobilitas menjadi sangat terbatas.
Berita terkini menunjukkan bahwa hanya beberapa orang yang berani mengambil risiko untuk menyusuri aliran sungai menggunakan ban bekas demi mencapai tempat yang lebih aman. Tindakan ini tentu saja sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Ketidakmampuan untuk keluar dari wilayah tersebut membuat semua penduduk semakin khawatir, terutama karena mereka juga kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan. Ini menjadi masalah serius yang harus segera dicari solusinya.
Infrastruktur yang Hancur dan Dampaknya bagi Warga
Salah satu infrastruktur yang menjadi harapan warga, sebuah jembatan gantung yang dibangun dua tahun lalu, kini telah hanyut terbawa arus banjir. Keberadaan jembatan ini sangat penting bagi akses mobilisasi warga yang harus menyeberangi sungai untuk mendapatkan bantuan.
Saat ini, tidak ada pilihan lainnya bagi warga selain menggunakan ban mobil sebagai alat bantu untuk menyeberangi sungai. Hal ini menambah tantangan bagi masyarakat yang sedang dalam keadaan sulit.
Tarmizi menambahkan bahwa untuk mencapai kawasan tersebut, diperlukan kendaraan 4×4 dan supir yang berpengalaman. Ini menunjukkan betapa parahnya kerusakan yang terjadi akibat bencana dan betapa sulitnya akses menuju daerah tersebut.
Berbagai upaya harus dilakukan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan memastikan bahwa bantuan dapat terus disalurkan dengan cepat. Masyarakat sangat berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengambil tindakan untuk memperbaiki kondisi mereka.
