Pemerintah Didorong Perkuat Industri Pertahanan Dalam Negeri
3 mins read

Pemerintah Didorong Perkuat Industri Pertahanan Dalam Negeri

Pentingnya kemandirian industri pertahanan dalam negeri semakin diperkuat oleh pernyataan Ridlwan Habib, seorang pengamat intelijen. Ia mendorong pemerintah untuk lebih memanfaatkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang diproduksi di Indonesia, terutama oleh TNI dan Polri, guna memperkuat perekonomian nasional dan ketahanan nasional.

Menurut Ridlwan, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan alutsista TNI dan Polri harus berasal dari produksi dalam negeri. Hal ini penting untuk memastikan teknologi dan kapasitas produksi tetap berada di tangan bangsa sendiri.

“Saat ini, kita sudah memiliki beberapa alutsista yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri,” ujar Ridlwan. Ia mencontohkan seperti senapan, amunisi, dan armada kapal patroli yang sebagian besar merupakan buatan lokal.

Peran Aktif Perusahaan Milik Negara dalam Produksi Alutsista

Sebagian besar perusahaan milik negara telah berkontribusi dalam memproduksi alutsista untuk keperluan TNI dan Polri. Salah satu yang paling dikenal adalah PT Pindad (Persero), yang memproduksi berbagai jenis senjata, termasuk pistol dan senapan serbu. Produk-produk ini telah mendapatkan pengakuan dan digunakan oleh angkatan bersenjata Indonesia.

Pindad juga sedang meningkatkan kapasitas produksi amunisi kecil, dengan target mencapai 400 juta butir peluru per tahun. Ini adalah peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya 225 juta butir, menandakan komitmen perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Tidak hanya itu, fokus pada suku cadang lokal juga semakin meningkat. Ridlwan menekankan pentingnya memproduksi komponen kunci secara lokal untuk menjaga ketahanan pertahanan.

Tantangan Dalam Memproduksi Komponen Kunci Alutsista

Meskipun kemajuan sudah terlihat, tantangan tetap ada dalam hal produksi komponen kunci seperti mesin jet dan sensor elektronik tingkat tinggi. Ridlwan menekankan bahwa meskipun harus melakukan impor, perlu ada kerjasama dengan pabrik lokal. Ini penting agar aset pertahanan tidak tergantung pada pihak asing.

“Pertahanan kita harus tetap beroperasi meskipun dalam situasi darurat,” ungkapnya. Pendekatan ini akan mengurangi risiko yang mungkin muncul akibat sanksi dari negara lain.

Diperlukan juga upaya kolaboratif antara BUMN dan industri swasta dalam memproduksi berbagai komponen dan suku cadang presisi. Kerja sama ini menjadi elemen kunci dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan nasional.

Pentingnya Sinergi antara BUMN dan Industri Swasta

Sinergi antara BUMN dan industri swasta nasional merupakan langkah strategis untuk mencapai kemandirian pertahanan. Banyak perusahaan swasta yang kini berusaha untuk terlibat aktif dalam penyediaan komponen dan suku cadang presisi. Ini membuka peluang untuk memperkuat industri lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja.

PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (PT NKRI) adalah salah satu contoh perusahaan swasta yang telah berperan aktif dalam industri pertahanan. Dengan lisensi resmi dari Kementerian Pertahanan, mereka dapat memproduksi berbagai jenis komponen senjata dan amunisi.

Pabrik PT NKRI di Bandung kini menjadi bagian penting dari rantai pasok industri pertahanan, mampu memproduksi berbagai komponen yang dibutuhkan untuk mendukung pembuatan alutsista. Ini menunjukkan bahwa industri swasta juga memiliki peran penting dalam menjaga kemandirian pertahanan.